0 Poin
Vaksinasi

Jangan Percaya, Ini Mitos Salah Kaprah Seputar Vaksin COVID-19

Sudah setahun lamanya kita berkutat dengan pandemi COVID-19. Meski telah beradaptasi dengan keadaan normal yang baru, namun, kita tentu tak bisa selamanya hidup di bawah rasa takut akan tertular penyakit mematikan ini. Untungnya, salah satu ikhtiar untuk mengakhiri pandemi saat ini sudah dilakukan. Vaksinasi massal sebagai program pemerintah sudah menjalar ke banyak daerah.

Menyasar kelompok rentan, vaksinasi sejauh ini sudah dilakukan kepada berjuta-juta masyarakat di seluruh Indonesia. Sayangnya, masih banyak juga masyarakat yang enggan atau menolak untuk divaksin. Mitos-mitos yang masih menyelimuti seputar vaksin ikut andil dalam penolakan ini.

Maka dari itu, untuk membantu program vaksinasi agar terlaksana dengan lancar, berikut kami beberkan mitos seputar vaksinasi COVID-19 yang salah kaprah, dan sepatutnya tidak dipercaya. Ayo ikut vaksinasi, agar imun lebih kuat hadapi virus yang ingin menyerang!

Mitos: Vaksin COVID-19 tidak aman karena dikembangkan sangat cepat

Fakta: Sebelum diedarkan secara luas, vaksin COVID-19 telah menjalani sejumlah uji klinis, sampai akhirnya mendapatkan izin pakai darurat dari BPOM. Ini membuktikan bahwa vaksin aman dan efektif untuk mencegah COVID-19, karena vaksin telah memenuhi semua standar keamanan sebelum disuntikkan ke dalam tubuh kita.

Mitos: Terdapat alat pelacak atau microchip dalam vaksin COVID-19

Fakta: Banyak hoax yang beredar di media sosial, bahwa telah disusupkan microchip atau alat pelacak dalam vaksin COVID-19. Nama Bill Gates ikut terseret dalam hoax yang sudah menyebar dan sayangnya dipercaya oleh banyak orang ini. Bagaimanapun, para ilmuwan dan ahli kesehatan menegaskan bahwa informasi tersebut murni salah, dan vaksin COVID-19 adalah murni aman untuk mencegah penyakit.

Mitos: Vaksin COVID-19 memiliki efek samping yang parah

Fakta: Memang benar, vaksinasi COVID-19 bisa memberikan efek samping. Namun sejauh ini, efek samping yang dilaporkan adalah efek samping ringan, yang juga biasa terjadi pada vaksinasi untuk penyakit lainnya, seperti nyeri otot, sakit kepala, demam, dan reaksi alergi. Untuk mencegah reaksi alergi yang parah, disarankan bagi Anda yang memiliki alergi terhadap kandungan atau bahan vaksin untuk kembali menanyakan atau mengonfirmasi apakah Anda tetap bisa menjalankan proses vaksinasi dengan aman.

Mitos: Jika sudah pernah mengalami COVID-19, Anda tidak perlu vaksin

Fakta: Ini merupakan anggapan yang salah. Jika Anda sudah pernah tertular COVID-19, ada bukti yang memperkuat bahwa Anda tetap bisa mendapat manfaat jika ikut vaksinasi COVID-19. Namun, belum ada data yang tersedia tentang seberapa lama seseorang bisa terlindungi dari COVID-19 setelah pulih dari penyakit ini. Oleh karena itu, tetap ikut vaksinasi lebih direkomendasikan agar Anda tak sampai tertular dua kali oleh penyakit ini.

Mitos: Anda bisa tertular COVID-19 dari vaksin

Fakta: Perlu diingat, vaksin COVID-19 memang mengandung virus Sars-CoV-2, namun ini merupakan virus yang sudah dilemahkan atau dalam artian sudah mati dan bukan virus hidup, sehingga vaksinasi tidak dapat menyebabkan Anda mengalami COVID-19.

(Foto: hackensackmeridianhealth.org)

BAGIKAN KE MEDIA SOSIAL

YesDok adalah layanan ehealth yang terjangkau dengan platform mobile yang mudah digunakan dan tangguh. Menembus 17.504 pulau dan 260 juta pengguna di Indonesia.

DMCA.com Protection Status

HUBUNGI KAMI

   

KONTAK
  Corporate Info :
info@yesdok.com
  Customer Service :
help@yesdok.com
FOLLOW US
   

COPYRIGHT ©2021 ALL RIGHTS RESERVED BY YesDok